Tampilkan postingan dengan label Showbiz. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Showbiz. Tampilkan semua postingan

Rabu, 10 Juli 2013

Kesalahan yang Menjadi Kebiasaan di Bulan Ramadhan

 
Bulan Ramadhan memang mempunyai cerita tersendiri, ada hal-hal menarik yang sering di lakukan dan mungkin menjadi kebiasaan sebagian orang selama melakukan ibadah puasa. Namun kebiasaan itu menurut saya adalah hal yang salah karena itu adalah hal yang tidak perlu dilakukan atau mungkin salah dalam mengartikan makna dari hal tersebut. apa saja seh hal tersebut? ini dia :

1. Asmara Subuh
 
Ini adalah kegiatan yang hanya ada di bulan Ramadhan jadi sehabis shalat subuh biasanya pasangan muda mudi melakukan jalan-jalan santai sambil menikmati terbitnya sang fajar, mungkin ada yang tidak berpasang-pasangan namun tidak banyak juga yang memang melakukannya bersama pasangannya (pacar). Bulan puasa adalah bulan ibadah seharusnya itu tidak dilakukan karena tentunya akan mengurangi makna puasa itu sendiri ada baiknya kita membaca Al-Quran sehabis sholat subuh sungguh ini lebih bermanfaat daripada asmara subuh karena di bulan-bulan selain ramadhan biasanya kita malas dalam membca Al-Quran jadi inilah saatnya kita memperbanyak membaca Al-Quran.

2. Tidur
 
Salah satu berkah di bulan Ramadhan adalah tidur pun di nilai menjadi sebuah pahala akan tetapi banyak yang salah mengartikan arti tidur ini. Ada sebagian orang yang tidur seharian selama bulan puasa dengan dalih tidur kan juga dapat pahala bahkan ada sebagian orang yang sengaja tidak tidur di malam hari hingga sahur dan setelah sahur dia tidur sampai sore hari lalu tinggal menunggu waktu berbuka puasa. Dimana letak nikmatnya berpuasa kalau kita hanya tidur seharian penuh dan puasa kita tidak akan ada artinya karena mungkin selama kita tidur ibadah sholat zuhur dan ashar terlewatkan begitu saja. Jadi tidurlah sekedarnya ketika kita ngantuk dan tidur yang baik itu adalah di malam hari dan sekedarnya di siang hari.

3. Buka Puasa Bersama
 
Buka puasa bersama adalah hal yang baik karena dapat menyambung tali silaturrahmi antara sesama muslim, namun disini bukan kegiatan buka bersamanya yang salah namun ibadah Sholat Magrib nya yang sering terlewatkan ketika kita melakukan acara buka puasa bersama. Banyak diantara kita  yang melewatkan sholat magrib saat buka puasa bersama karena keasikan ngobrol dan canda tawa sesama kerabat, bahkan mungkin bagi yang melakukan buka puasa bersama di cafe atau di restoran (selain di rumah) karena keasikan mengobrol kita pun melewatkan ibadah sholat taraweh. Sungguh hal ini sangat disayangkan karena ibadah puasa yang kita lakukan seharian tadi menjadi sia-sia karena kita melewatkan ibadah sholat maghrib karena Sholat kedudukannya lebih tinggi dibandingkan berpuasa.

4. Setelah berbuka kembali seperti biasa
 
Ini merupakan salah satu pemikiran yang salah yang merasuki kita yaitu beribadah itu hanyalah ketika waktu setelah sahur sampai berbuka puasa setelah berbuka kita bisa melakukan hal-hal yang dilarang oleh Allah  SWT seperti biasanya. Saya tidak bisa menyebutkan hal-hal apa saja itu namun anda pasti lebih mengetahuinya yaitu hal-hal yang anda tidak lakuakan (tahan-tahan) karena anda tau itu akan mengurangi atau merusak nilai pahala puasa namun anda lakukan setelah berbuka seperti biasanya.

Itu adalah hal-hal yang menurut saya kesalahan yang menjadi kebiasaan kita selama bulan Ramadhan berlangsung. Puasa itu sendiri adalah semacam sebuah bentuk latihan untuk tidak melakukan hal-hal yang di larang Allah SWT, misalnya seperti Atlit sebelum ikut bertanding biasanya mereka melakuakan pemusatan latihan (TC) dan uji coba terlebih dahulu sehingga saat bertanding diharapkan bisa meraih hasil yang maksimal. Begitu juga dengan puasa yang merupakan latihan untuk kita bisa menjaga ibadah sholat 5 waktu, sering membaca Al-Quran, sholat malam. bersedekah, berhenti merokok (kenapa di saat waktu puasa kita bisa menahan untuk tidak merokok dan ketika tidak berpuasa tidak bisa ini juga bisa menjadi latihan bagi perokok yang ingin berhenti karena tidak ada yang tidak mungkin segala sesuatunya datang dari hati /niat) dan melakukan hal-hal yang baik lainnya sehingga setelah bulan Ramadhan berlalu diharapkan kita bisa menjadi seorang muslim yang bertaqwa.

Semoga di Bulan Ramadhan kali ini menjadi titik awal kita untuk menjadi lebih betaqwa kepada Allah SWT dan kita bisa menjadi pribadi yang lebih baik lagi semoga Allah SWT selalu merahmati dan memberi petunjuk kepada kita untuk selalu memegang teguh Al-Quran dan Sunnah Rasullullah SAW. Amin

»»  Read More...

Rabu, 19 Juni 2013

Jadwal Lengkap Pertandingan Liverpool Musim 2013-2014

»»  Read More...

Kisah Inspiratif Paul Cumming : Orang Inggris Yang Memajukan Sepak Bola Indonesia


Ini merupakan tulisan Aqwam Fiazmi Hanifan yang saya ambil dari situs detik sport.com  tulisannya saya gabungkan menjadi satu bagian agar lebih mudah dibaca.

SUMBER : Bagian 1 , Bagian 2 , Bagian 3 , Bagian 4


Hikayat Paul Cumming (Bagian 1)

Kisah Sedih Dari Lereng Semeru

 

Rumahnya agak menjorok ke dalam Dusun Drigu, Desa Poncokusumo Kabupaten Malang, Jawa Timur. Lokasi rumahnya terpencil dari peradaban manusia lainnya. Sunyi dan sepi.



Ada yang masih ingat dengan Paul Cumming? Seseorang yang menjadi idola suporter klub Galatama asal Jakarta yaitu Indonesia Muda di tahun 1981 hingga 1983. Beberapa mengenangnya sebagai sosok pelatih asing kontroversial yang amat dicintai masyarakat Papua, namun dibenci suporter bola asal Jawa di pertengahan dekade 80an.

Permainan keras yang menjadi ciri khas Perseman Manokwari kala itu membuat anak asuh Paul dicaci habis-habisan baik oleh pengamat, media maupun penggila bola. Bergeming, Paul tetap melanggeng dengan polanya yang terkenal keras -- PSMS Medan pun bukan tandingannya.

Benar saja, usai menjadi juara Divisi I tahun 1983, Perseman menjadi kuda hitam baru di kompetisi perserikatan dengan menjadi tim terbaik nomor empat di tahun 1985, serta runner-up 1986 sebelum ditaklukan Persib Bandung 1-0 lewat gol tunggal Djadjang Nurdjaman di partai Grand Final.

Paul adalah pula legenda bagi masyarakat Bandar Lampung. Namanya melegenda tapi dia bukan tokoh fiksi. Paul adalah manusia nyata. Kesuksesannya menangani klub Papua membuat ia ditarik mantan gubernur Lampung, Poedjono Pranoto, untuk membesut PSBL Bandar Lampung. Sepakbola Lampung pun menuai kejayaan. Setelah selalu berkutat di Divisi II, Paul bisa membawa PSBL promosi ke Divisi I dan Divisi Utama. Pekerjaan yang tak mudah tentunya.

Usai dipensiunkan secara paksa dari PSBL akibat keuangan klub yang defisit, Paul terpaksa menganggur. Beruntung kemudian Perseman mengontaknya kembali. Sampai tahun 2011, Paul kembali menetap di Papua sembari sempat melatih tim PON Papua Barat dan Persiwon Wondama.

***

Di Indonesia, Paul adalah orang kedua yang dinaturalisasi akibat urusan sepakbola. Orang asing pertama yang menjadi WNI gara-gara sepakbola adalah Toni Pogacnik, eks Pelatih Timnas tahun 1950an. Dan orang kedua itu adalah Paul Cumming, seorang Londoners yang teramat cinta kepada Negeri Zamrud Khatulistiwa.

Di masa itu sangat langka pesepakbola atau pelatih asing yang ingin berganti kewarganegaraan menjadi WNI. Paul termasuk orang langka itu. Prosesnya tidak mudah dan berbelit-belit. Selain memakan waktu lama, besarnya kontribusi terhadap sepakbola Indonesia pun menjadi kewajiban utama lainnya bagi siapa pun yang ingin jadi WNI.

Proses Paul menjadi WNI tidaklah semudah yang diterima Sergio Van Dijk, Kim Jefrey Kurniawan atau pemain asing naturalisasi lainnya. Setelah menunggu waktu 19 tahun, pasca kedatangannya pertama kali ke Indonesia tahun 1980, akhirnya pada 10 November 1999, Pengadilan Negeri Bandar Lampung mengetok sah dirinya sebagai WNI. Beruntung nasib Paul tak setragis sang pendahulu Toni Pogacnik yang keburu meninggal sebelum dirinya disahkan sebagai WNI.


Paul adalah generasi awal pelatih asing yang berani membesut klub-klub sepakbola di Indonesia. Dia seangkatan bersama Marek Janota, Wiel Coerver dan Fred Corba. Mereka menjadi bagian dari kebangkitan kompetisi Galatama. Mereka pun jadi saksi, betapa Galatama porak-poranda akibat pengaturan skor ulah mafia judi bola.

Pengalaman pahit saat Berniaga di Pedalaman dan Pesisir Papua

Entah mengapa dia betah berlama-lama di Indonesia, toh secara financial kehidupan Paul biasa-biasa saja. Selama ini selalu ada persepsi bahwa orang asing yang tinggal di Indonesia adalah kaum borjuis berdompet tebal. Paul jauh dari anggapan seperti itu. Dia mungkin "pebola naturalisasi" paling malang di Indonesia. Dari dulu hingga sekarang, dompet cekak selalu ia rasakan.

Hidupnya selama Papua di awal tahun 1990an terkadang butuh perjuangan ekstra dan menderita. Untuk tetap bisa bertahan hidup, ia tinggal di daerah pedalaman dan berdagang sembako menggunakan perahu dari pulau ke pulau di Teluk Cendrawasih.

Sialnya, usahanya itu kena tipu orang. Karena terlalu percaya, ia serahkan semua perniagaan kepada anak buahnya. Sang anak buah berdusta mengatakan kepada dirinya kapal terbalik dan barang dagangan habis tercebur ke laut. Ia pun dinyatakan bangkrut total, karena harus membayari barang-barang jualannya yang belum dibayar. Tapi ia tak menyerah dan kembali meniti usaha perniagaan berjualan sembako ke daerah tambang-tambang.

Akan terasa "ngeh" melihat bule di pedalaman Papua untuk menyambung perut ia harus menaiki motor trail dengan barang bawaan sembako penuh. "Jalannya menanjak bukan main, untuk menempuh tambang saya harus berkendara 8 jam melewati hutan sembari bawa barang-barang digendong di belakang," ucapnya.

Baru beberapa bulan usahanya berjalan, Paul kembali terkena sial. Lagi-lagi ia kena tipu akibat bujuk rayu oknum warga yang meminta ia meninggalkan barang dagangannya di tambang. Ia pun hanya mengelus dada meratapi nasibnya itu.

Dan itu hanyalah satu dari belasan kisah tragis Paul yang akan terus berlanjut sampai hari ini.

===================================

Hikayat Paul Cumming (Bagian 2)

Kisah-Kisah Sukses Yang Di Balas Air Tuba

 

thumbnail 
 Di perpustakaannya, dengan baju klub kesayangannya, Liverpool (Aqwan/PFI/detiksport)

Usai terkatung-katung selama tinggal di Papua, Paul Cumming akhirnya menemukan tempat berkarier baru. Adalah Tony Betay yang membawanya untuk menangani PSBL Bandar Lampung. Gubernur Lampung saat itu, Poedjono Pranyoto, yang memimpin Lampung selama 2 periode (1988-1993 dan 1993-1998) meminta Paul mengembangkan sepakbola di Lampung.

Paul dan Poedjono bukan kali itu baru saling kenal. Saat Paul membesut Perseman Manokwari, kebetulan waktu itu Poedjono menjabat sebagai wakil gubernur Irian Jaya. Di situlah awal perkenalan keduanya. Poedjono sedikit banyak mengerti bagaimana Paul mampu membangkitkan kesebelasan semenjana seperti Perseman. Untuk itulah, guna menghidupkan kembali PSBL, Paul diminta bekerja di Lampung.

Karenanya, selama tujuh tahun Paul membesut PSBL (1991-1998). Di saat prestasi PSBL mencapai titik puncak dengan mampu lolos ke babak 4 Besar Liga Indonesia di Senayan, krisis politik menimpa Indonesia dengan lengsernya rezim Orde Baru. Kerusuhan di Jakarta membuat kompetisi ditunda, tim yang sudah menginap di Jakarta pun terpaksa kembali pulang.

Selang beberapa bulan kemudian, efek domino krisis ekonomi nasional mulai berimbas pada klub. Demi alasan penghematan, Paul terpaksa dipensiunkan. Tahun 1998, usai pemecatan itu, ia pun kembali berjuang melawan tekanan ekonomi dan beralih haluan membuka usaha penyewaan perahu di Pantai Ringgung, Lampung Selatan.

Tragedi lain dalam kehidupan Paul pun kembali mengintai….

Perahu, kios kecil dan bulan-bulanan preman

Ia mempunyai 12 perahu atau sampan yang biasa disewakan kepada nelayan atau wisatawan. Tarif yang ia patok berkisar Rp10.000 – Rp 15.000 per hari. Ia juga memilki kios kecil di pinggir pantai. Dengan cekatan ia akan membuat kopi atau mie rebus bagi wisatawan yang memesan. Sayang, usahanya itu tidak berjalan memuaskan.

Selain sepi, ia pun kerap dipalak preman-preman. Dana setoran sewaan dan keutungan warung terpaksa ia serahkan kepada preman-preman. Terkadang ia sembunyi di kebun atau hutan selama berjam-jam, menunggu preman yang tak lelah mengganggunya itu pergi dari kiosnya.

Jika tak setor, Paul terus menerus diteror dan diganggu. Sebagai seorang pecinta hewan, banyak piaran ia punya mulai dari monyet, anjing, burung, domba hingga kucing. Tragisnya, hewan piarannya satu per satu mati diracun orang. Seekor domba jantan langka yang doyan makan kabel dan pernah membuat Lampung geger karena kebiasaannya itu pun mati diracun orang yang konon tak suka padanya.

Kriminalisasi memang sudah menjadi bagian dari hidup Paul. Bukan sekali dua perahunya dirusak dan dicuri orang. Sudah 12 kali perahunya hilang dan rumahnya kecurian. Entah siapa pelakunya.

"Saya juga heran, saya sangat dikenal di Lampung tapi kenapa mereka memperlakukan saya seperti ini?" keluhnya.

Petaka ditusuk preman

Puncak kesialan Paul terjadi 27 Juli 2001. Ketika itu dia berkunjung ke toko sembako 'Senang' di Bandar Lampung untuk membeli bahan pokok yang akan ia jual di pondok kecilnya. Kebetulan di toko itu ada 15 preman bersenjata samurai, golok dan pisau sedang memalak pemilik toko.

Tanpa sebab alasan, seseorang dari mereka mengejar Paul. Enam tusukan pisau ditancapkan ke punggungnya. Dengan luka berceceran Paul berusaha kabur dan langsung melapor ke kantor polisi. Bukan pertolongan yang ia dapat, pihakaparat malah memintanya terlebih dahulu membuat laporan bertele-tele, padahal kondisinya saat itu berlumuran darah. Sebuah kisah klasik polisi di Indonesia.

Beberapa lama kemudian, sang pelaku bernama Beny ditangkap. Belum lama luka tusukan itu terasa, keluarga Beny dan rekan-rekan premannya mendatangi Paul. Di bawah tekanan dan ancaman, secara terpaksa Paul memaafkan Beny dengan menandatangi surat damai di Polres Bandar Lampung. Alhasil hukuman Beny pun sangat ringan.

"Waktu itu di pengadilan sedang ada dua kasus persidangan, kasus penusukan saya dan kasus yang maling ayam. Yang kasus saya, Beny hanya dijatuhi hukuman 6 bulan, sedangkan yang maling ayam hukuman penjara 2 tahun," tuturnya sembari tersenyum.

Kepedihan selanjutnya

Tak tahan dengan situasi itu, akhir tahun 2001 Paul pergi ke Nabire, Papua. Saat di Papua ia memang memiliki rumah di sana. Alangkah kagetnya saat kembali ke Nabire tak ada yang tersisa dari rumah itu. Semua perabotan barang yang ia kumpulkan semasa berjuang mati-matian naik turun gunung, berlayar dari satu pulau ke pulau lain nyaris tak ada sisa. Tinggal atap dan tembok saja. Semua harta sudah ludes, apa yang ia miliki di Lampung sudah dijual demi merenovasi rumah di Nabire.

Tahun 2002, Perseman Manokwari kembali mengaetnya. Gajinya teramat kecil. "Tak apa kecil, yang penting ada uang buat makan," katanya. Sayang, lagi-lagi karir Paul tak lama. Semusim kemudian, dia tak lagi dipekerjakan Perseman.

Usai diberhentikan oleh Perseman 2003, kembali hidupnya menderita. Di tahun itu ia sempat sakit malaria, tak punya uang untuk ke dokter Paul pun merana di pondok kecilnya. Ia memang tinggal sendirian dan jauh dari keramaian, Sejak tinggal di Lampung ia memang senang menyendiri. Saat tingga di Nabire, tetangga terdekatnya paling banter 1 km. Dalam kondisi sakit malaria dan terasing, beruntung seseorang pengusaha Julius Permadi menjemputnya dan merawatnya hingga sembuh.

Setelah sehat, di tahun 2004, ia memutuskan sementara waktu untuk ikut sang Istri yang menjadi guru di Malang terlebih waktu itu Nabire dilanda gempa hebat, ia pun mengungsi. Tak menganggur lama, Paul diajak untuk melatih tim futsal Universitas Airlangga di Surabaya tahun 2005. Feedback yang dapatkan sangatlah kecil, Sebuah tempat tinggal dan Gaji bulanan 1 juta per bulan. "Tak ada pemasukan lain, semuanya diirit-irit," ungkapnya.

Setahun kemudian, PSBL kembali memanggilnya, ia pun kembali ke Lampung. Paul kali itu dijadikan alat politikus oleh calon yang hendak ingin maju jadi walikota Bandar Lampung. Jadi kendaaran politikus memang tak mengenakan. Setahun melatih PSBL ia sama sekali tak dibayar. Ada hikmah di balik musibah, Dewi fortuna mendatanginya, panggilan datang dari Bupati Teluk Wondama Papua Barat. Ia diminta mengembangkan sepakbola di kabupaten baru yang hanya berpenduduk 12.000 keluarga itu.

Diberi kepercayaan, semua hal ia curahkan. Mulai dari mendesain kostum, membelikan sepatu pemain, mengumpulkan suporter, hingga membenahi manajemen klub. "Di sana itu masyarakatnya tak begitu suka bola, tak ada pemain bagus dan lapangan yang layak," tuturnya.

Apa yang dilakukan membuahkan hasil, Persiwon yang biasa berkutat di Divisi III lolos ke tahapan selanjutnya. Berkat tangan dinginnya juga nama Patrich Wangai berhasil ditemukan. Bersama dengan Paul, Patrich berhasil membuat Persiwon lolos ke Divisi II, setahun berikutnya ke Divisi I. Tahun 2008, ia diminta untuk membesut tim PON Papua Barat di ajang PON Kaltim.

Tak mengecewakan, anak asuhnya bermain bagus. Sang juara Jawa Timur digebuk 2-0. Hanya saja, permainan kotor yang dilakukan DKI Jakarta membuat timnya kalah 2-0. Alhasil di laga penentuan, Jatim dan DKI bermain mata. Hasil imbang di antara keduanya cukup untuk membuat Papua Barat terhenti di babak 6 besar.

Air susu dibalas air tuba

Usai gelaran PON berakhir, ia kembali ke Persiwon, sampai petaka tersebut terjadi. Gonjang-ganjing kepengurusan PSSI di Jakarta tahun 2010 membuat perjalanan kompetisi jadi tak menentu. Usai menjalani kompetisi divisi I di Banyuwangi, agar tak bolak-balik Papua-Jawa dan menghemat ongkos, tim melakukan latihan di Malang. Bulan demi bulan berlalu, sejak Desember 2010 hingga Agustus 2011 tim tetap kompak rutin latihan.

Hanya saja di penghujung bulan Agustus kabar tak enak itu tiba juga. Secara sepihak manajemen klub Persiwon memecat Paul. Kerugian finansial yang ia dapat tidaklah sedikit, selain gaji yang tak dibayar selama 10 bulan ia pun harus menalangi biaya akomodasi tim selama berbulan-bulan latihan di Malang.

"Uang saya tak diganti, mau gimana lagi. Kerugian saya mencapai puluhan juta. Uang segitu bagi saya sangatlah berarti, itu uang hasil nabung bertahun-tahun," keluhnya.

Stresnya kian bertambah setelah tahu untuk kedua kalinya, satu-satunya harta yaitu rumah di Nabire, rata dengan tanah. Lebih parah lagi, semua isi perabotan rumah, elektronik, parabola bahkan sampai kusen, pintu, jendela, dan atap aluminium ludes dijarah orang “Di sana sekarang sudah rata dengan tanah, karena besi-besi rangka pun dicuri membuat tembok jadi ambruk,” ucapnya dengan raut sedih.
==========================================

Hikayat Paul Cumming (Bagian 3)

Walau Sakit, Terus Berusaha lagi, Lagi, Dan Lagi 

 

thumbnail  
Paul sedang mengisi kolam renang kecilnya, yang disewakan Rp 1.000 per orang. (Aqwam/PFI/detiksport)

Usai dipecat dan dirugikan secara sepihak oleh manajemen Persiwon Wondana, Paul Cumming nyaris tak punya kegiatan, pekerjaan dan penghasilan. Rumahnya di Lereng Semeru sejak 2011 pun bukan miliknya, melainkan investasi sang kakak, Rosalind Cumming -- seorang pelukis yang cukup punya nama di Shrospire, satu daerah di bagian barat Inggris.

Tragisnya, saat proses membangun rumah itu, ia kembali dan lagi-lagi kena tipu. Harga tanah yang seharusnya Rp 40 juta malah ia beli dengan Rp 160 juta, harga yang mahal bagi sebuah tanah yang jauh dari keramaian di tengah desa. Tak hanya itu, bangunan yang mestinya awet dan kuat, dalam beberapa bulan malah sudah retak-retak.

Ia merasa dijahili habis-habisan para pekerja tukang bangunan yang bekerja untuknya. Dana Rp 400 juta yang ia keluarkan, tak sebanding dengan kondisi bangunan yang ditaksir hanya sekitar sepertiganya. Pondasi bangunan dibangun tanpa komposisi semen yang pas, arsitekturnya pun asal-asalan. Beberapa tembok malah miring. Alhasil, penghasilannya yang tak seberapa itu ia habiskan untuk memperbaiki rumah.

Tapi Paul tak mau berdiam diri. Ia merasa malu juga hanya mengandalkan sang istri yang banting tulang sebagai guru dengan gaji yang tak seberapa. Mustahil berpangku tangan. Musykil untuk menyerah. Maka ia memutar otaknya untuk bertahan.

Karena itu, dengan modal seadanya yang ia dapat dari sang kakak di London, pada bagian belakang rumahnya ia membuka usaha rental Play Station. Banyaknya unit mencapai 7 mesin. Tarif yang ia patok Rp 2.000/jam. Seberapa menguntungkan sih bisnis seperti ini? Ya "receh" saja. Per bulan ia hanya bisa meraup omzet kotor kisaran Rp 600 ribu - 1 juta. Hasil itu harus dipotong dengan biaya listrik dan gaji anak tetangga berusia 14 tahun yang membantunya menjaga rental.

Anak itu bernama Fikri. Saat ini dialah asisten Paul. Per hari ia dibayar Rp 15 ribu untuk mengurusi rental PS dan membantu Paul. Omzet yang ia dapat setiap bulan jarang masuk kantong pribadi, lebih sering untuk membayar listrik, gaji fikri maupun servis stik PS yang sering rusak.

Berbagai macam upaya ia lakukan untuk menambah uang. Meja foosball usang yang ia punya, disewakan dengan harga seribu perak setengah jam. Banyak anak-anak yang pakai, tapi seringnya dipakai tanpa bayar.

Di belakang rumahnya, ia pun memiliki kolam renang sederhana, airnya diambil dari PAM Desa. Untuk memenuhi kolam itu dengan air PAM Desa, Paul harus menunggu sampai 7 hari 7 malam.

Sebulan kolam itu efektif dipakai paling hanya 20 hari, 3 hari sisanya dipakai Paul seorang diri untuk menyikat dan mengurasnya. Maklum, air desa sering berlumut dan berdaki. Untuk berenang di sana, ia mematok tiket Rp 1.000 sekali masuk. Paul sebenarnya ingin menaikkan harga itu dari jadi Rp 2.000, tetapi ia merasa berat.

Dalam suatu adegan yang saya lihat dengan mata kepala saya sendiri, Paul mengutarakan keinginannya itu kepada anak-anak yang mampir ke rumahnya. "Gimana kalau dinaikkan jadi dua ribu, masih mau gak?" Tanya paul. "Gak Om, mahal," jawab sang bocah.

"Tuh, kan, lihat, mereka gak mau saya naikkan jadi dua ribu. Mereka pernah bilang ke saya, jika dinaikkan dua ribu, mereka lebih memilih berenang di sungai daripada di sini," ucapnya sembari mengangkat kedua tangannya.

Tahukah anda penghasilan yang diterima Paul dari usaha kolam renang dan foosball-nya itu? Hanya Rp 25 ribu/bulan yang masuk dompet.

Play Station yang jadi sandaran hidup

Malam itu waktu menunjukan pukul 21.00 WIB, di luar sudah sangat sepi, hanya terdengar suara jangkrik. Mata Paul sayup-sayup tak kuat menahan rasa kantuk. Tapi ia tampak gelisah tak karuan. Sebabnya, dua gerombolan remaja datang secara bergantian untuk menyewa Play Station untuk dibawa pulang ke rumah. Tarif yang dipatok Paul untuk menyewa seharian adalah Rp 20 ribu/hari.

Tetapi malam itu Paul mencium gelagat tak mengenakan. Ciri-ciri pelanggannya itu sama seperti berita di koran lokal belum lama ini, yang memberitakan beberapa anak SMP yang di-drop out gara-gara ketangkap mencuri PS di Tumpang, 8 km dari rumahnya.

Setelah diusir secara halus, ia takut gerombolan itu kembali. Karenanya ia tak bisa tidur. Play Station miliknya itu kini jadi jimat yang amat berharga baginya. Kendati hasilnya tak seberapa, tapi mesin-mesin buatan Jepang itu adalah penyambung hidup di masa senja. Ia tak ingin PS-nya kembali dicuri orang.

Sejak memulai usaha, sebenarnya ia memiliki 10 buat Play Station, namun tiga bulan lalu Paul kecurian, dua mesinnya raib dirampok maling. Yang lebih getir, yang mencuri adalah anak kampung yang dipercayakan menjadi pembantunya menjaga rental PS. Sedangkan satu mesinnya lagi disewa orang tapi tak pernah dikembalikan hingga sekarang.

Tinggal di Malang, Paul selalu bernasib malang. Sama seperti dulu, hidupnya tetap saja tak lepas dari ditipu, dijahili dan dizalimi. Sering pelanggan rental PS nya kabur dan tak bayar. Sering pula ia kena SMS teror dari warga sekitar. Propaganda guru ngaji di kampung, sempat membuat usahanya nyaris gulung tikar.

"Guru ngajinya pernah bilang ke anak- anak di sini, orang yang main PS tak akan masuk surga. Gara-gara ucapan itu anak-anak kecil di sini takut dan gak mau main PS lagi," katanya.

Kejahatan dibalas dengan senyuman

Usaha lain tak letih-letihnya dilakoni Paul untuk bertahan hidup. Ia pun sempat bertani dengan menanam pohon jeruk di kebun belakang rumahnya. Ada 100 pohon, biaya perawatannya mencapai 2 juta rupiah. Hasil panen yang didapatkan hanya 450 ribu. Sialnya lagi, Paul ditipu oleh petani lokal yang mem-blow-up biaya perawatan menjadi berkali-kali lipat.

Kini pohon jeruk itu masih tertanam di sana, dibiarkan tumbuh liar. Terkadang Paul kesal jeruk-jeruknya yang tak terawat itu hilang dicuri orang.

"Kurang ajar juga anak-anak itu, meskipun sudah dipagar tetap saja mereka mencuri," geramnya.

Di dusun itu terkadang Paul memang tak dihargai. Kerap diledek dan dibentak anak-anak desa yang jadi pelangganya. Hanya saja semua itu dibalas kakek tua itu dengan senyuman lebar yang jadi ciri khasnya. "Pelanggan adalah raja," tuturnya singkat.

Anak-anak itu mungkin tak tahu siapa yang ada di depannya itu. Sesosok pelatih asing yang lebih berjiwa nasionalis ketimbang orang Indonesia itu sendiri. Ia rela tinggal di pedalaman hutan serta pesisir Papua dan Sumatra hanya untuk mengembangkan sepakbola. Ironisnya, selama itu juga ia terkena penyakit malaria hingga 14 kali: 4 kali malaria tropika, 10 kali malaria tessiana.

Takut melatih lagi karena penyakit

Sudah menjadi tekadnya, Paul enggan melatih klub-klub besar di tanah jawa. Ia mengaku lebih bersemangat membesarkan klub-klub kecil yang belum dikenal orang macam Perseman Manokwari dan PSBL Bandar Lampung. Tawaran dari Persib Bandung dan Persebaya pernah ditampiknya dengan alasan idealismenya itu.

Tapi kini idealisme itu kini hanya jadi cerita. Toh ia enggan kembali menjadi pelatih sepakbola. Oleh dokter ia diagnosa menderita penyakit spondilosis [sejenis penyakit rematik yang menyerang tulang belakang].

"Dokter bilang ke saya gak boleh terjatuh atau terpeleset, sekali itu terjadi saya gak akan bangun lagi. Saya jadi kepikiran terus, saya jadi trauma untuk kembali melatih sepakbola takut terpeleset saat latihan," ujarnya.

Tragis memang. Saat ini ia pun menderita penyakit lain. Keningnya terluka dan terus menerus mengeluarkan darah. Kondisi ini sudah terjadi setahun lamanya. Plester dan perban selalu terpampang saat Paul berkaca. Darahnya memang sulit membeku, tapi itu bukan penyakit gula. Entah apa nama penyakit itu dan sampai sekarang luka ini tak sembuh karena Paul memang tak mampu ke dokter untuk memeriksanya. Keuangannya yang pas-pasan jadi penyebabnya.

Untuk berobat ke Kota Malang, setidaknya ia perlu biaya dokter yang mahal serta ongkos Rp 250 ribu untuk menyewa mobil. Paul memang sudah tak kuat lagi naik motor dan angkutan umum. Satu-satunya transportasi hanyalah menyewa mobil.

"Saya tak punya uang untuk sewa mobil dan berobat, kalau ke Kota Malang saya harus sewa mobil ke tetangga 250 ribu, saya gak kuat bayarnya," katanya sembari mengerut.
================================================
Hikayat Paul Cumming (Bagian 4 - Habis)

No Country For Old Man 

 

thumbnail


"Trims banyak. 99,9% orang di Indonesia sangat baik dan ramah. Mungkin saya hanya unlucky saja."

Kalimat di atas diucapkan Paul Cumming -- lengkapnya Paul Anthony Cumming -- melalui akun twitter-nya [@papuansoccer]. Kalimat itu merupakan jawaban terhadap mention seseorang yang mengatakan dirinya baru sadar kenapa sepakbola Indonesia tidak kunjung berprestasi setelah membaca feature tentang Paul yang saya tulis untuk subkanal About the Game di detiksport ini.

Lihatlah, dia bahkan tetap mengatakan sesuatu yang positif tentang negeri ini setelah serangkaian pengalaman pahit berinteraksi dengan sepakbola dan orang-orang Indonesia. Apa yang bisa kita katakan kepada orang seperti Paul ini? Orang yang bodoh? Lugu? Naif? Entahlah.

Mungkin ini yang disebut "cinta tanpa syarat". Lelaki kelahiran 8 Agustus 1947 ini memang mencintai Indonesia dengan segala keindahan dan kebrengsekannya.

Andai Paul masih menjadi warga negara Inggris, di usianya yang sudah menginjak 66 tahun ini dia akan bisa menikmati akhir pekan yang manis. Jika masih jadi warga negara Inggris, dia bisa menikmati tunjangan masa tua dari pemerintah sebesar 50 poundsterling per minggu. Dengan nilai tukar sekarang, angka itu sekitar 3 juta rupiah per bulan. Jumlah itu belum ditambah dengan biaya transportasi dan kesehatan yang gratis serta mendapatkan tunjangan khusus untuk biaya rumah.

Dan itu semua bisa diperolehnya dengan cuma-cuma di masa tua, sebagaimana para pembayar pajak lainnya jika sudah memasuki usia lanjut. Bandingkan dengan 650 ribu yang diperolehnya dari usaha menyewakan play station.

Dan yang pasti, Paul bisa berjalan-jalan keliling London, menonton pertandingan Liga Inggris secara langsung di stadion, atau sesekali pergi ke Anfield untuk menonton kesebelasan Liverpool yang sangat dia sukai. Bukan seperti sekarang yang hanya menonton Liverpool melawan Chelsea pada kompetisi game Winning Eleven di ruangan 2 x 3 meter di belakang rumahnya.

Dia sendiri bukannya tak ingin untuk sesekali pulang ke Inggris, sekadar menjumpai handai taulannya yang masih hidup. Tapi nyaris mustahil dia pergi ke Inggris. Jangankan untuk berangkat ke sana, untuk sekadar berbicara dengan saudara lewat telepon pun Paul tak sanggup. Hingga hari ini, sudah hampir 38 tahun ia tak kembali ke Inggris.

Ia pernah dijanjikan tiket pulang saat menukangi PSBL Bandar Lampung. Hanya saja, tiket kepulangan itu bukan tiket pulang pergi ke London, tapi pulang pergi ke Pantai Ringgung, salah satu pantai di Lampung yang memang jadi kediamannya selama di Lampung.

Satu-satunya penyesalan untuk kegagalannya menengok Inggris adalah tak sempat lagi bertemu ibundanya. Dia mengaku tak pernah menceritakan segala hal pahit yang ia alami di Indonesia pada sang ibu. Paul cemas itu akan membuat ibunya sedih. Kepada sang ibu, dia hanya mengisahkan cerita-cerita bagus tentang pengalamannya di Indonesia.

Dan untuk satu hal ini, untuk urusan dengan sang ibu, Paul tak tahan untuk tidak meneteskan air mata. Saya melihat matanya berkaca-kaca ketika mengisahkan bagaimana inginnya dia mengirimkan kado ulang tahun saat ibunya merayakan hari kelahirannya yang ke-79. Paul sudah membeli taplak meja khas Indonesia untuk ibunya. Tapi kado itu urung dia kirimkan. Harga pengiriman paketnya tak sanggup dibayarnya. Sampai saat ibunya wafat pada 2011 silam, tak sekali pun Paul bisa melihat ibunya lagi.

Apakah Paul menyesal? Sama sekali tidak. Dengan nada yang mencoba meyakinkan saya, dia mantap berkata: "Meskipun kondisi saya seperti ini, saya tak pernah menyesal jadi WNI."

Jika pun masih ada hasrat yang tersisa, dia masih memendam keinginan untuk menengok kembali tanah kelahirannya, setidaknya satu kali saja, sebelum dia menutup mata untuk selama-lamanya.



**

Saya pribadi tak ada maksud jauh-jauh mendatangi Paul di Lereng Semeru untuk kembali mengungkit-ngungkit kesedihannya itu. Tujuan saya mulanya untuk mangajaknya berbicara dan mengenang sepakbola Indonesia di dekade 1980-1990an. Saya harap, dengan berbincang bersama orang bule, kami bisa bicara-bicara secara lebih terbuka.

Saya memang mendapatkan cerita-cerita mengenai sepakbola Indonesia di masa lalu, tetapi hanya sedikit. Saya lupa dengan tujuan saya -- terutama setelah melihat sendiri berlangsungnya sebuah adegan tak lama setelah saya sampai di kediamannya.

Saat saya masuk, ternyata di dalam ada tamu. Saya diam menyimak pembicaraan-pembicaraan yang ada. Tamu tersebut ternyata sekretaris notaris yang menguruskan administasi surat-surat tanah Paul. Perhatian saya mulai tertarik ketika melihat respons serta gesture Paul saat mengetahui berapa nominal pajak yang meski ia bayar.

"Dua juta yah?" katanya sembari memijat-mijat keningnya. "Sekarang sayangnya saya tidak punya uang. Nanti akhir bulan saya punya, tapi hanya 650 ribu dari hasil rental PS, bagaimana?" katanya lagi.

Saya langsung mengabarkan apa yang saya alami pada editor saya di Bandung. Alhasil misi pun berubah. Editor saya meminta untuk menggali kisah-kisah Paul dengan lebih detil, bukan untuk menguak-nguak cerita sedih, tapi terutama untuk memotret bagaimana seorang "perantau sepakbola" sepertinya punya daya tahan yang luar biasa menghadapi deraan persoalan hidup yang seakan tiada putus.

Kisah-kisah sedih Paul memang bukan hal baru di telinga para penggemar sepakbola Indonesia. Beberapa media besar seperti koran Tempo, Kompas, majalah Kartini dan media-media lain, baik cetak maupun elektronik pernah mengangkat kisah hidupnya.

Saat kisahnya diangkat ke majalah Kartini tahun 2001 silam, banyak orang yang ingin ingin menyalurkan bantuan dan meminta nomor rekeningnya. "Saya tolak permintaan itu, saya bukan tipikal orang yang dengan mudah menerima bantuan orang lain selama saya mampu berusaha," katanya.

Prinsipnya itu dilakukan hingga sekarang, sedikit oleh-oleh yang saya berikan menjelang kepulangan pun enggan ia terima. Setelah saya paksa dan "ancam" baru ia mau menerimanya.

Dia punya rasa hormat yang sangat tinggi terhadap dirinya sendiri, sama tingginya dengan rasa hormat yang ia punya terhadap negeri ini dan orang-orangnya. Saya kira, itulah sebabnya dia masih bisa mengatakan "99,9% orang Indonesia itu sangat baik dan ramah, saya mungkin hanya unlucky saja".

**

Setelah feature saya beredar di dunia maya, malamnya saya terkejut mendapatkan telepon dari nomor tak dikenal. Setelah diangkat suaranya pun samar-samar tak jelas, selain karena sinyal yang menjemukkan, intonasi dan logatnya pun aneh. Ternyata dia Paul Cumming. Alamak, saya lupa menyimpan nomornya.

Dalam perbincangan yang singkat itu, Paul berterima kasih dan senang dengan respons masyarakat Indonesia terhadap dirinya. Saya sedikit tertawa ketika dia mengeluhkan ada salah satu tulisan di kolom komentar yang bernada sinis kepadanya. Tetapi ia tak marah. "Komentar semuanya bagus," katanya dengan logat bahasa Inggris yang masih teramat kental.

Paul memang masih bisa mengakses internet. Selama ini hanya akses internetlah yang menghubungkan Paul ke dunia luar. Saling bertukar email dengan saudara dan mantan rekan yang menggeluti dunia sepakbola. Internet itu diaksesnya lewat laptop usang dan sebuah modem yang sinyalnya datangnya tidak bisa diduga-duga. Kadang dapat, kadang tidak.

Laptop itu ia beli 2010 silam semasa jadi Pelatih Persewon Wondama. Saya masih ingat debu yang melekat di atas keyboard laptopnya itu tebalnya bukan main, menandakan barang itu memang akhir-akhir ini jarang dipakai dan dibersihkan. Uang dari rentalan PS selalu ia sisihkan untuk membeli pulsa modem yang dipakainya secara selektif untuk menghemat pulsa.

Selain laptop, kekayaan lain yang dimiliki Paul adalah gunungan kliping-kliping surat kabar. Paul memang apik dalam menyimpan barang. Banyak artefak-artefak keren yang saya temukan di sana, mulai dari teamsheet final Persib Bandung versus Perseman Manokwari tahun 1986 hingga lampiran Match Day Program klub lokal Inggris tahun 1903.

Khusus kliping tentang dirinya sendiri ia menyimpan khusus. Entah mengapa, kliping-kliping yang selalu memberitakan dirinya selalu menyedihkan dari diminta deportasi oleh Solihin GP yang waktu itu menjabat Ketua Umum Persib tahun 1985 [saat itu Persib bertemu Perseman di final Divisi Utama Perserikatan] sampai penusukannya di Lampung 2001 silam.

Ada pelajaran hidup yang saya dapat dari Malang. Paul mengajarkan ketegaran dan kesabaran, ia bukan tipikal orang senang menyelesaikan masalah dengan kemarahan. Beberapa kali saya tertawa geli saat ia menceritakan bagaimana mantan-mantan asisten dan pemainnya bersikap yang membuat ia jengkel, mulai dari pengaturan skor, mabuk-mabukan, melakukan tindak kriminal hingga menghamili anak orang. Semua itu diceritakannya dengan jenaka tanpa ada dendam.

Humor seringkali menyelamatkan seseorang dari derita yang sebenarnya tak tertanggungkan. Paul tahu benar fungsi humor itu. Jika ada yang mengatakan bahwa humor paling berkualitas adalah humor yang sanggup menertawakan diri sendiri, Paul adalah masternya. Saat derita sudah tak lagi bisa ditolak, kenapa tidak sekalian saja menertawakannya jika dengan itu kita bisa bertahan lebih panjang -- setidaknya agar waras di kejiwaan?

Sepakbola adalah hidup Paul Cumming. Dia terdampar di Indonesia karena sepakbola, dan dia dikecewakan berkali-kali juga oleh sepakbola. Tapi sepakbola tak mungkin dia lupakan. Sepakbola sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupannya.

Dia kini tak bisa lagi melatih karena cedera tulang belakangnya membuatnya sangat berhati-hati agar tidak terjatuh lagi. Jika dia terjatuh, dia terancam bahaya yang bisa membuatnya sakit dan tak tersembuhkan, setidaknya demikian dokter berkata padanya.

Agar tetap terhubung dengan sepakbola, banyak cara dia lakukan. Membuka usaha rental play station adalah salah satu upaya Paul untuk tak terputus dengan sepakbola. Suara fiktif sorak-sorai penonton di game PS sepakbola akan selalu mengingatkannya pada sepakbola, pada lapangan hijau, dan tentu saja pada kehidupannya sendiri.

Di masa mudanya, semua uang saku yang ia punya bisa habis hanya untuk menonton pertandingan di hari Sabtu. When saturday comes bukan parafrase yang klise bagi Paul muda, itu parafrase sangat menyenangkan baginya.

Di masa tuanya sekarang, dia beruntung mempunyai match day programme yang meng-cover lebih dari 150 ribu pertandingan sepakbola sejak awal abad 20. Koleksinya itu membuatnya bisa mengakses starting-line up ribuan pertandingan, siapa yang cetak gol, menit berapa terjadinya gol, dan data-data teknis pertandingan lainnya.

Jika anda menelusuri ocehan Paul di twitter, beberapa hari lalu dia sempat merespons kicauan seseorang yang berkicau tentang Keith Kayamba Gumps. Paul merespons begini: "Saya punya matchdayprogramme antara St. Kitts & Nevis lawan Oldham Athletic pada 24 Mei 1998. Keith Gumbs lahir 11/9/1972.

Bayangkanlah seorang tua menikmati pertandingan sepakbola melalui lembar-lembar data pertandingan, tanpa suara, tanpa gambar. Hanya teks-teks saja.

"Football means everything to me. Saya tidak bisa hidup tanpa sepakbola," kata Paul kepada saya melalui pesan pendek, tepat saat saya sedang menuliskan bagian penutup tulisan ini.

Paul memiliki mimpi lain, mimpi itu mungkin bisa saja terwujud di bulan Juli nanti. Mimpi itu adalah bertemu tim idola: Liverpool.

Meskipun tinggal di London, Paul amat mencintai Liverpool. Dia pernah hadir di stadion-stadion elite di Inggris. Di masa mudanya awayday adalah hal yang lazim saat ia mendukung tim lokal Hendon Aways, sebuah klub kecil di London. Sayangnya di masa-masa itu ia tak pernah sama sekali menyaksikan Liverpool berlaga secala langsung. Kendati begitu, kekagumannya pada Liverpool tetap terjaga baik-baik dalam ingatan masa mudanya, juga dalam kenangan masa tuanya.

Paul ingin sekali kembali ke Stadion Gelora Bung Karno saat Liverpool datang ke Indonesia Juli nanti. Ia tak berharap untuk duduk di tribun kehormatan atau VIP sama seperti saat dirinya bersama Adolf Kabo, Mathias Woof, Yohanes Sawor dll. menuai kejayaan Perseman Manokwari di tahun 1985-1986.

Baginya duduk di kursi termurah pun sudah sangat sangat bersyukur. Tapi ia sudah putus asa, pesimis mimpinya tersebut tak akan terlaksana. "Keinginan pasti ada, tapi dengan kondisi seperti ini, saya tak bisa. Tak punya uang. Saya nonton dari televisi saja," lanjutnya sembari tersenyum, dengan bola mata yang agak membesar memancarkan kejenakaan yang agak pahit.

Saat itu juga saya kembali mengontak editor saya di Bandung. Lewat pesan pendek, saya ceritakan mimpi Paul untuk menonton Liverpool. Kesal rasanya menyadari editor saya tak segera membalas. Sampai balasan yang saya tunggu pun datang. Editor saya membalas: "Ok, jangan khawatir. Sampaikan pada Paul, dia bisa pergi ke GBK nonton Liverpool. Kita berangkat sama-sama ke Jakarta dari Bandung nanti. Teknis kita atur kemudian."

Belakangan saya tahu, kenapa editor saya lama membalas pesan saya. Rupanya, dia berdiskusi dengan rekan kami lainnya, editor lain, perihal kemungkinan meminta Paul menulis artikel secara rutin untuk Pandit Football. Menilik kecenderungan Paul yang enggan merepotkan orang lain, memintanya menulis artikel adalah pilihan yang sepertinya akan jadi opsi yang terhormat untuknya.

Saya segera menyampaikan permintaan editor itu kepada Paul. Dia menyambut hangat permintaan itu. Saya katakan padanya dia bisa menulis apa saja: pengalaman-pengalamannya, tentang taktik sepakbola, tips-tips bermain bola atau soccer clinic, atau esai-esai lepas yang bisa mengakomodasi pikiran-pikirannya tentang sepakbola. Apapun itu.

Setelah feature pertama tentang Paul itu tayang di subkanal About the Game ini, saya menagih artikel pertama yang ditulisnya. Dia minta maaf karena belum bisa menyelesaikan tulisan. Katanya: "Maaf, saya sudah 5 malam tidak tidur gara-gara jaga play station. Saya coba besok kalau malam ini bisa tidur. Hehehe …."

Saya merasa bersalah dan sepertinya akan kesulitan menguatkan perasaan saya sendiri jika harus menagih artikel kembali. Tapi tulisan "hehehe…" di belakang permintaan maafnya itu menguatkan saya. Saya membayangkan, Paul mengatakan itu tidak dengan wajah muram, tapi sembari tersenyum, dengan bola mata bulat yang memancarkan cahaya terang yang menandakan dia masih hidup, akan tetap hidup, setidaknya mencoba sekuatnya terus bertahan hidup!

You’ll never walk alone, Paul!



===

* Ditulis dari hasil wawancara Paul Cumming (@papuansoccer) dengan @aqfiazfan dari @panditfootball untuk @detiksport
»»  Read More...

Minggu, 16 Juni 2013

My Best Song Ever



Bukan perkara mudah untuk memilih satu lagu terbaik dari sekian banyak lagu yang ada di dunia ini, namun jika saya harus memilih satu lagu terbaik, maka dengan penuh keyakinan saya akan memilih lagu "Frank Sinatra - My Way". Ya, judulnya saja sudah sangat kuat dan bisa merangkum seluruh makna dari isi lagu tersebut "I Did it My Way" tidak banyak lagu yang dari judulnya saja sudah begitu kuat.

Menurut saya lagu My Way adalah lagu yang sangat laki-laki sekali karena makna dari lirik nya begitu dalam dan kuat yang menceritakan rangkuman dari segala perjalanan hidup seorang pria yang telah mengalami segala macam kejadian bahagia, sedih, gagal,sukses, tertawa, jatuh cinta, patah hati dan segala macam kejadian yang lain namun dia lakukan dengan caranya sendiri dan begitulah laki-laki sejati.

Siapa yang tidak tau lagu yang sangat legendaris ini tapi jika ada yang tidak tau mungkin dia berasal dari planet lain atau dia memang tidak suka musik sama sekali.

Ini dia lagu nya :


Lirik nya :

Frank Sinatra - My Way

And now, the end is here
And so I face the final curtain
My friend, I'll say it clear
I'll state my case, of which I'm certain
I've lived a life that's full
I traveled each and ev'ry highway
And more, much more than this, I did it my way

Regrets, I've had a few
But then again, too few to mention
I did what I had to do and saw it through without exemption
I planned each charted course, each careful step along the byway
And more, much more than this, I did it my way

Yes, there were times, I'm sure you knew
When I bit off more than I could chew
But through it all, when there was doubt
I ate it up and spit it out
I faced it all and I stood tall and did it my way

I've loved, I've laughed and cried
I've had my fill, my share of losing
And now, as tears subside, I find it all so amusing
To think I did all that
And may I say, not in a shy way,
"Oh, no, oh, no, not me, I did it my way"

For what is a man, what has he got?
If not himself, then he has naught
To say the things he truly feels and not the words of one who kneels
The record shows I took the blows and did it my way!

[instrumental]

Yes, it was my way 


Bagian yang menjadi favorit saya adalah makna dari lirik terkahir nya :

For what is a man, what has he got?
If not himself, then he has naught
To say the things he truly feels and not the words of one who kneels
The record shows I took the blows and did it my way!

Untuk diketahui saya tidak pernah bosan ketika mendengar lagu ini. 
So, What is your best song ever ?
»»  Read More...

Sabtu, 15 Juni 2013

Daftar Tinggi dan Berat Badan Ideal



Setiap orang umumnya ingin memiliki berat badan yang normal atau ideal agar terlihat proporsional di mana tinggi badan dan berat badan seimbang. Orang yang berat badannya kurang dari ideal biasanya akan terlihat kurus, sedangkan yang berat badannya di atas ideal biasanya akan terlihat gemuk. Walaupun demikian, banyak orang yang mempunyai berat badan yang tidak ideal, selama sehat maka tidak harus berjuang mengubah berat badannya menjadi berat badan ideal.

Berikut ini adalah daftar berat badan ideal manusia yang terbagi atas kelompok laki-laki dan perempuan :

Tinggi 145 cm :
- Wanita : 46-50 kg (kecil) , 49-55 (sedang),  53-59 kg (besar)

Tinggi 147 cm :
- Wanita : 46-51 kg (kecil),  50-56 (sedang),  54-61 kg (besar)

Tinggi 150 cm :
- Wanita : 47-52 kg (kecil),  51-57 (sedang) , 55-62 kg (besar)

Tinggi 152 cm :
- Wanita : 48-53 kg (kecil),  52-58 (sedang),  56-63 kg (besar)

Tinggi 155 cm :
- Pria      : 57-60 kg (kecil),  58-63 (sedang),  61-67 kg (besar)
- Wanita : 49-55 kg (kecil),  53-60 (sedang),  58-65 kg (besar)

Tinggi 157 cm :
- Pria      : 58-61 kg (kecil),  59-64 (sedang),  62-68 kg (besar)
- Wanita : 50-56 kg (kecil),  55-61 (sedang),  59-66 kg (besar)

Tinggi 160 cm :
- Pria      : 59-61 kg (kecil),  60-65 (sedang),  63-70 kg (besar)
- Wanita : 51-57 kg (kecil),  56-62 (sedang),  61-68 kg (besar)

Tinggi 163 cm :
- Pria      : 60-62 kg (kecil),  61-66 (sedang),  64-71 kg (besar)
- Wanita : 53-59 kg (kecil),  57-64 (sedang),  62-70 kg (besar)

Tinggi 165 cm :
- Pria      : 61-63 kg (kecil),  62-67 (sedang),  65-73 kg (besar)
- Wanita : 54-60 kg (kecil),  59-65 (sedang),  63-72 kg (besar)

Tinggi 168 cm :
- Pria      : 61-65 kg (kecil),  63-69 (sedang),  66-75 kg (besar)
- Wanita : 56-61 kg (kecil),  60-66 (sedang),  65-74 kg (besar)

Tinggi 170 cm :
- Pria      : 62-66 kg (kecil),  65-70 (sedang),  68-77 kg (besar)
- Wanita : 57-63 kg (kecil),  61-68 (sedang),  66-76 kg (besar)

Tinggi 173 cm :
- Pria      : 63-67 kg (kecil),  66-71 (sedang),  69-79 kg (besar)
- Wanita : 58-64 kg (kecil),  63-69 (sedang),  67-77 kg (besar)

Tinggi 175 cm :
- Pria      : 64-69 kg (kecil),  67-73 (sedang),  71-81 kg (besar)
- Wanita : 60-66 kg (kecil),  64-71 (sedang),  69-78 kg (besar)

Tinggi 178 cm :
- Pria      : 65-70 kg (kecil),  69-74 (sedang),  72-82 kg (besar)
- Wanita : 61-67 kg (kecil),  66-72 (sedang),  70-80 kg (besar)

Tinggi 180 cm :
- Pria      : 66-71 kg (kecil),  70-76 (sedang),  73-84 kg (besar)
- Wanita : 62-68 kg (kecil),  67-73 (sedang),  71-81 kg (besar)

Tinggi 183 cm :
- Pria     : 68-73 kg (kecil),  71-78 (sedang),  75-86 kg (besar)

Tinggi 185 cm :
- Pria     : 69-75 kg (kecil),  73-80 (sedang),  77-88 kg (besar)

Tinggi 188 cm :
- Pria     : 71-77 kg (kecil),  75-81 (sedang),  79-91 kg (besar)

Tinggi 190 cm :
- Pria     : 72-79 kg (kecil),  76-84 (sedang),  81-93 kg (besar)



Cara Membaca Informasi Daftar Berat Badan Ideal :
Misalkan seorang wanita beratnya 65 kilogram dan tingginya 161 centimeter, maka wanita tersebut masuk dalam kategori berat ideal dan termasuk dalam golongan ukuran tubuh yang besar. Jika beratnya 70 kg, maka termasuk tidak ideal dan masuk ke dalam ukurang orang yang sangat besar.

Tambahan :
Jangan terlalu memaksakan diri untuk mengurangi ataupun menambah berat badan jika caranya membahayakan diri sendiri dan orang lain yang ada di sekitarnya.


»»  Read More...

Jumat, 03 Mei 2013

Tips Agar Sendal Tidak Hilang di Mesjid ala King Amar



Ini merupakan hal yang sering terjadi dan dirasakan oleh banyak orang walaupun harga sendal tidak seberapa namun pasti membuat hati jadi gundah gulana, ingin marah tapi tidak tahu harus marah sama siapa jadi ya di pendam saja rasa amarah nya.

Supaya hal itu tidak terjadi lagi saya akan membagikan tips kepada anda agar tidak mengalami kehilangan sendal lagi. Ini dia tips nya :

1. Gunakan sendal jelek
Gunakan lah sendal yang sekiranya tidak begitu bagus lagi ini adalah untuk tidak membuat sang pencuri ingin mengambil sendal anda, karena pasti sang pencuri hanya ingin mengambil sendal yg bagus dan layak pakai jadi "Kejahatan terjadi bukan karena ada niat dari pelaku tapi juga karena adanya kesempatan, - Bang Napi - "

2. Pisahkan sendal
Dalam meletakkan sendal ada baiknya jangan di letakkan berdampingan namun pisahkan lah sendal anda, misal sendal bagian kiri di ujung dekat tiang dan sendal bagian kanan dekat kotak amal. Di jamin sendal anda tidak akan hilang karena si pencuri berpikir sendal anda hanya sebelah saja. *Setelah di pisahkan jangan sampai lupa dimana anda meletakkannya jika lupa kehilangan di akibatkan karena kelalaian anda :D

3. Letakkan jauh dari tempat wudhu
Jangan anda meletakkan sendal anda di dekat tempat wudhu karena biasanya sendal jepit menjadi sendal favorit bagi orang-orang yang menggunakan sepatu atau yang tidak ingin sendalnya basah. Niat nya memang hanya meminjam saja untuk berwudhu namun biasanya mereka tidak meletakkannya kembali di tempat semula kita meletakkannya.

4. Beri tanda pada sendal
Ini biasanya untuk yang memakai sendal jepit sejenis swallow, berilah tanda pada sendal jepit anda karena sendal jepit model ini akan banyak anda temukan di mesjid dan akan membingungkan anda ketika anda ingin mengambil sendal anda kembali jadi berilah tanda pada sendal jepit anda.

5. Bonus Tips
Pakailah sepatu ketika anda ke mesjid di jamin sendal anda tidak akan hilang (ini kan bukan tips untuk menjaga sepatu tapi agar sendal tidak hilang) hhahahahahahahaha....

Semoga tips yang saya berikan bisa bermanfaat dan kita pun bisa menjalakan ibadah di Mesjid dengan tenang.
»»  Read More...

Kamis, 07 Maret 2013

Review Buku : Republik #Jancukers



Kenal dengan Sujiwo Tejo ? Ya Dalang atau Budayawan ini merupakan salah satu orang yg eksentrik itu dikarenakan pemikiran-pemikirannya yang tidak biasa namun sangat menarik untuk disimak. Dalam satu pemikirannya dia ciptakan Negeri yang dinamakan Republik Jancukers yaitu sebuah negri dimana setiap rakyatnya tampil apa adanya tanpa perlu sopan santun bahkan sedikit urakan serta tak butuh pencitraan namun keadaan Negeri Jancukers itu selalu dalam keadaan aman dan tentram. 

Untuk lebih mensosialisasikan mengenai Republik Jancukers ini maka di tulis lah buku Republik #Jancukers agar masyarakat lebih mudah memahaminya. Buku ini adalah buah pemikiran dari sang penulis Sujiwo Tejo dalam hal Sosial, Budaya, Politik, bahkan Cinta dengan gaya uniknya, banyak hal yang tanpa kita sadari secara logika benar apa yang dikatakan oleh penulis seperti misalnya dari dulu itu yang selalu diberantas adalah buta huruf sedangkan buta cinta tidak. Yang lainnya lagi bahwa kita setiap makan ikan selalu di sarankan untuk memakan kepala ikan agar bisa jadi raja, tapi dalam proses biologi pembusukan pertama pada ikan itu ya di kepalanya maka dari itu sekarang banyak pemimpin yang korupsi dikarenkan isi kepalanya sudah busuk. Dan yang menarik lagi tentang bahwa yang terjadi sekarang adalah pemahamannya jika kita malu bertanya maka konsekuensinya adalah sesat di jalan tapi klo malu korupsi konsekuensinya apa?. Masih banyak lagi hal-hal menarik lainnya jika anda membaca buku ini tiga hal tadi hanya sebagian kecilnya saja.

Jancuk itu sendiri adalah bahasa jawa yang kini sudah dikenal diseluruh pelosok negeri, pada dasarnya jancuk itu sendiri mengandung arti yang sangat kasar namun di Republik Jancukers jancuk itu menandakan keakraban, kebersamaan, dan juga bisa tuk memulai atau mengakhiri percakapan. Untuk mengerti arti jancuk yang sesungguhnya di sarankan anda sering-sering bergaul dengan orang jawa itu akan lebih mudah anda memahami makna sebenarnya. Dan untuk mengerti buku Republik #Jancukers saya sarankan anda mengenal Sujiwo Tejo terlebih dahulu karena jika anda tidak mengenal sosok Sujiwo Tejo maka bisa dipastikan anda akan kebingungan untuk memahami maksud dari buku ini. Beruntung saya sudah mengenal sedikit sosok Sujiwo Tejo melalui Film, talkshow, dan juga memfollow twitternya @sudjiwotejo dengan begitu saya bisa sedikit memahami buku ini walau tidak sempurna tapi tidak juga menjadikan saya IQ Melati itu yang sering di sebutkan oleh Sujiwo Tejo kepada orang-orang yang tidak memahami setiap perkataannya, karena sejatinya Rakyat Republik Jancukers pasti mempunyai IQ Berbintang hehe.

Menurut penilaiaan pribadi saya terhadap buku ini adalah walaupun saya agak kesulitan memahami maksud dari buku ini namun buku ini tetap menarik untuk dibaca lembar demi lembar, bab demi bab karena buku ini tidak menceritakan kisah berkesinambungan tapi setiap bab beda persoalan. Hal ini lah yang membuat buku ini menjadi menarik karena ada hal baru di setiap bab nya dan tentu hal yang akan membuat kita tertawa, mengernyitkan dahi, bingung, dan juga berkata owh benar juga ya. Terakhir untuk rating saya memberikan nilai 7,5/10 untuk buku ini.

Salam Jancukers
»»  Read More...

Review Film Silver Linnings Playbook



Siapa yang gak tau film ini yg telah menjadi perbincangan banyak orang dan tentu telah meraih beberapa penghargaan. Di hantui rasa penasaran semalam saya menonton film ini. Silver Linning Playbook menceritakan kisah seorang pria Pat (Bradley Cooper) yang menderita gangguan kejiwaan akibat tragedi perselingkuhan istrinya. Setelah 8 bulan di rawat di RS Jiwa Pat pun kembali kerumah dan tinggal bersama orang tuanya, namun begitu Pat harus tetap menjalani beberapa terapi dikarenakan kesehatannya dirasa belum begitu pulih. Pada suatu ketika Pat bertemu dengan seorang gadis bernama Tiffany (Jennifer Lawrence) seorang janda yang depresi karena suaminya meninggal. Seiringa berjalanannya waktu Tiffany mencoba membantu Pat agar bisa kembali pada istrinya namun dengan syarat Pat haru membantu Tiffany untuk mengikuti kontes Tari.

Walaupun film ini bergenre Darama namun tidak membuat saya mengantuk padahal saya menonton sekitar pukul 22.30 WIB dengan keadaan lelah sehabis pulang bekerja. Plot ceritanya mudah dipahami sehingga lebih mudah dicerna, tapi ada satu hal yang mengganjal di benak saya yaitu tujuan utama Tiffany membantu Pat adalah sebenarnya untuk mendapatkan hati Pat, namun bagaimana bisa Tffany mencintai Pat padahal Pat diketahui sedang dalam gangguan kejiawaan. Beda cerita jika Tiffany jatuh cinta setelah mengenal Pat terebih dahulu namun ini dari awal bertemu tujuan tiffany memang untuk mendapatkan cintanya Pat.

Ada hal menarik di film ini juga adalah bahwa orang barat dengan paham modern masi juga mempercayai takhayul, ini yang di lakukan ayah nya Pat (Robert De Niro) yang suka taruhan di selalu percaya bahwa kebereuntungannya dalam memenangkan taruhan adalah jika Pat duduk nonton pertandingan football bersamanya sambil memegang Remote TV dan menghadap ke arah tertentu, lucu sekali hehe.

Film ini juga membuat saya jatuh hati kepada Jennifer Lawrence bukan saja karena aktingnya tapi juga karena wajah menggemaskannya, apalgi wajahnya ketika agak sedikit mabuk sebelum ikut kontes tari. ya Wanita dengan wajah "mabuk" habis minum tapi masih terlihat cantik dan sexy itu adalah Renee Zellweger dan Jennifer Lawrence mungkin juga karena mereka ada kemiripan. Walau tak ada adegan ranjang tapi Jennifer Lawrence juga sangat terlihat sexy dan menggoda dengan karakter keras kepala dan liar. Adegan saat latihan menari merupakan scene favorit saya

Untuk film ini walau banyak masuk nominasi dan mendapatkan beberapa penghargaan namun secara pribadi saya memberi rating 7/10 untuk film ini.
»»  Read More...

Sabtu, 02 Maret 2013

Review Film Le Grand Voyage



Film ini sudah lama ada di daftar koleksi Hard Disk saya namun baru 2 hari yang lalu saya baru sempat menontonnya. Film arahan Sutradara Ismael Ferroukhi ini di rilis pada tahun 2004, ya film yg sudah lawas memang tapi tetap menarik untuk di tonton.

Film Le Grand Voyage adalah film yang menceritakan perjalanan naik haji seorang Ayah (Mohammed Majd) dengan ditemani oleh anaknya Reda (Nicholas Cazale) menggunakan mobil dari Perancis ke Mekkah yang jauhnya kira-kira 3000 mil. Selama perjalanan tersebut mereka mendapat banyak cobaan salah satunya adalah ketika uang mereka dicuri dan ditambah lagi konflik yang terjadi antara ayah dan anak ini yang memang dari awal perjalanan sudah memiliki hubungan yang tidak harmonis. Sang anak (Reda) sering membangkang dan selalu terjadi perbedaan pendapat dengan sang ayah, dan puncak konfliknya adalah ketika di sela-sela waktu istirahat mereka selama perjalanan reda ketahuan mabuk-mabukan dan bermain dengan wanita malam. Di akhir cerita Sang ayah meninggal dunia ketika sedang menunaikan ibadah haji dan itu membuat reda sangat terpukul dan menyesali segala perbuatannya selama ini namun dengan begitu reda mendapatkan pelajaran berharga dari peristiwa ini sehingga menjadikan dia seorang muslim yang baik.

Banyak manfaat dan pelajaran yang bisa kita dapatkan dari film ini salah satunya yaitu kita sebagai seorang muslim haruslah meniatkan untuk menunaikan ibadah haji yang merupakan Rukun Islam ke 5 sebelum ajal menjemput. Pelajaran berharga lainnya adalah kita harus tetap percaya akan pertolongan Allah SWT ketika kita sedang mengalami kesusahan.

Film ini sangat layak untuk di tonton dan mungkin akan bisa membuat anda lebih religius nantinya, menurut penilaian pribadi film ini saya berikan rating 7,5/10, selamat menonton.
»»  Read More...

Sabtu, 16 Februari 2013

Review : Film dan Buku Life of Pi

 


Akhir tahun 2012 saya berlibur ke Jakarta untuk merayakan tahun baru disana dan tempat yang pertama kali saya kunjungi tentu Bioskop dikarenakan di Aceh tempat saya tinggal belum ada bioskop. Setelah beberapa hari menonton film 5cm dan Habibie & Ainun karena memang film ini sedang booming pada saat itu saya kebingungan film apa yg menarik berikutnya yang akan saya tonton. Saya mulai search di google mengenai film-film yg bagus dan saya tertarik dengan film Life of Pi ini.

Life of Pi menceritakan tentang Pi Patel (Suraj Sharma) adalah remaja yang tinggal di Pondicherry, India. Karena pergolakan politik saat itu, sang ayah, Santosh Patel (Adil Hussain), memutuskan membawa keluarga kecilnya tersebut pindah ke Kanada. Dengan memboyong seluruh penghuni yang mengisi kebun binatang mereka, keluarga Patel menumpang pada kapal barang milik Jepang. Namun sebelum mencapai Kanada, kapal tersebut karam akibat terjangan badai. Hingga hanya menyisakan Pi yang harus bertahan hidup bersama harimau Bengali bernama Richard Parker dalam sebuah sekoci.

Film ini sangat luar biasa dan salah satu Masterpiece dari beberapa film yang pernah saya tonton, kisah nya sangat mengharukan, lucu dan juga menengangkan. Bisa di bayangkan seorang anak 16 tahun terdampar di sebuah sekoci bersama seekor harimau dan dia harus bertahan hidup di samudera pasifik. Yang membuat menarik adalah Pi tidak berniat mencoba membunuh harimau tersebut agar dia bisa dengan tenang dan aman hidup didalam sekoci karena hal yang membuat dia bertahan hidup adalah justru karena kehadiran harimau itu yang membuat dia masih punya harapan dengan adanya kesibukan dalam merawat dan menjinakkan harimau itu, karena jika dia hanya merenung dan meratapi kesedihan tentu dia akan kehilangan semangat hidupnya jadi bisa dikatakan harimau itu adalah alasan mengapa dia masih bertahan hidup.

Selain itu kisah Life of Pi akan membawa kita lebih mengenal sosok Tuhan dari sudut pandang yg berbeda dan tidak dari agama tertentu, Kisah nya membawa ketrentaman dan ketenangan jiwa yang sangat mendalam bahkan sampai saat ini saya masih terngiang-ngiang betapa luar biasanya kisah ini ditambah lagi soundtrack lagunya yg begitu menyatu dengan alur cerita, coba anda dengarkan lagu Mychael Danna - Pi's Lullaby.

Untuk mengobati rasa rindu akan Film ini saya pun mencoba membaca novel nya. Novelnya sendiri menurut saya lumayan bagus karena detail-detail dari cerita yang tidak dijelaskan di film bisa kita ketahui tapi saya kurang begitu menikmati membaca novelnya karena tidak banyak dialog dan kita dipaksa berimajinasi untuk memahami kisahnya beruntung saya sudah terlebih dahulu menonton filmnya jadi saya tidak begitu kesulitan dalam memahami alur cerita di novel ini.

Menurut penilaian pribadi, saya memberikan nilai 9,5/10 untuk film nya dan 6,5/10 untuk novelnya.
»»  Read More...

Minggu, 10 Februari 2013

Club 27, Too Young to Die

Club 27
Apa itu The 27 Club ? The 27 Club atau club 27 adalah sebutan untuk para musisi yang mati di usia 27 tahun. Banyak artis atau musisi yang mati muda namun apa karena kebetulan atau tidak banyak musisi yang secara kebetulan mati di usia 27 tahun dan ini masih menjadi sebuah misteri kenapa banyak musisi kenamaan dunia meninggal di usia 27 tahun. Penyebabnya pun beragam. Mulai dari sakit, over dosis narkoba, kecelakaan, hingga yang paling menggenaskan, bunuh diri.

Ini dia daftar musisi yang tergabung dalam Club 27 atau yang mati di usia 27 tahun :

1. Jimi Hendrix : 27 November 1942 - 18 September 1970
Jimi Hendrix
 London, 18 September 1970, gitaris terbaik dalam sejarah musik rock ini menghembuskan nafas terakhir. Kematian Jimi masih menjadi misteri hingga kini mulai dari overdosis drug LDS dan alkohol, bunuh diri sampai dugaan pembunuhan. Terlepas dari misteri kematiannya, Jimi adalah musisi blues legendaris yang nama dan karyaanya masih dikenang hingga kini.








2. Jim Morrison "The Doors" : 8 December 1943 - 3 Juli 1971
Jim Morrison
 Paris, 3 Juli 1971, Jim Morrison yang dikenal sebagai vokalis The Doors ini ditemukan tak bernyawa di bathtub apartemennya. Hingga kini penyebab kematiannya masih simpang siur karena tak pernah dilakukan otopsi. Dugaan saat itu adalah serangan jantung, meski sekitar tahun 2007 kembali muncul kabar bahwa Jim meninggal karena overdosis heroin. Jim memang dikenal sebagai vokalis yang dekat dengan seks, alkohol dan drug. Terlepas dari kehidupannya yang amburadul, Jim adalah salah satu dari 100 penyanyi terbesar sepanjang masa dengan wajah rupawan yang handal meramu musik, puisi, drama, dan theatrical stage persona menjadi karya besar. Jim memang abadi, dan satu quotes tentang kematian yang mewakili sosok Jim adalah "We're reaching for death/on the end of a candle/We're trying for something/that's already found us."

3. Brian Jones "The Rolling Stones" : 28 Februari 1942 - 3 Juli 1969
Brian Jones
Sussex, Inggris, 3 Juli 1969. Jika Anda penggemar rock and roll tahun 60-an, Anda pasti kenal Brian Jones, gitaris dan pendiri Rolling Stones yang dikenal dengan kemahirannya bermain beragam alat musik dan termasuk musisi cerdas di zamannya. Brian tewas karena tenggelam saat berada di bawah pengaruh alkohol dan drug. Namun hingga kini, spekulasi penyebab kematian Brian
masih jadi misteri.







4. Janis Joplin : 19 Januari 1943 - 4 Oktober 197
Janis Joplin
Los Angeles, 4 Oktober 1970, Janis Joplin ditemukan tewas di lantai kamar hotelnya pada usia 27 tahun karena overdosis heroin dan alkohol. Janis, adalah salah satu musisi wanita aliran rock-blues yang sangat populer di era 60-an. Majalah Rolling Stones bahkan menempatkannya di deretan Artis Terpopuler Sepanjang Masa. Karir Joplin memang singkat, tapi penganut antikemapanan ini meninggalkan warisan yang besar dalam dunia musik. Penggemar Blues akan mengingat Joplin sebagai orang yang meyakini soul blues itu dimiliki semua orang selama kita mau merasakannya.





5. Kurt Cobain "Nirvana" : 20 Februari 1967 - 5 April 1994
Kurt Cobain
 Seattle, 4 April 1994, Kurt ditemukan tewas di rumahnya dengan kondisi mengenaskan, kepala hancur karena senapan yang ditembakkan ke mulut. Di samping mayatnya tergeletak selembar surat yang ditujukan kepada istrinya, Courtney Love. Hingga saat ini kematian Kurt masih jadi misteri meski diyakini dia meninggal karena overdosis, berhalusinasi dan menembak dirinya. Spekulasi lain menyebut Kurt tewas dibunuh. Terlepas dari misteri kematiannya, Kurt adalah musisi cerdas yang menandai perubahan besar dalam perkembangan musik di era 80-an dengan nafas Grunge dan alternative rock modern.

6. Amy Winehouse : 14 September 1983 - 23 Juli 2011
Amy Winehouse
 London, Sabtu, 23 Juli 2011, musisi berbakat asal Inggris ini ditemukan tewas dii rumahnya kawasan North London. Amy yang dikenal lekat dengan alkohol dan narkoba ini ditemukan tewas pukul 4.15 sore waktu setempat. Sampai saat ini penyebab kematian Amy masih simpang siur, meskipun pihak kepolisian mencurigai penyebabnya adalah overdosis obat-obatan. Di luar tampilannya yang urakan dan sering menghiasi media Inggris, dengan penampilan kacaunya, Amy adalah musisi jazz dan blues yang andal dan berkarakter. RIP Amy. We love you.






7. Kristen Pfaff : 26 Mei 1967 - 16 Juni 1994
Kristen Plaff
Pada tanggal 16 Juni 1994,Kristen Pfaff ditemukan tewas di apartemennya.Di lantai terdapat tas yang berisi obat-obatan terlarang.Pfaff diduga tewas karena overdosis obat-obatan terlarang.






 

8. Richard James Edwards "Manis Street Preachers" : 22 Desember 1967 - 1 Februari 1995
Richard James Edward











 

9. Pete de Freitas "Echo & The Bunnyman" : 2 Augustus 1961 - 14 Juni 1989
Pete de Freitas









10. Peter Ham "Badfinger" : 27 April 1947 - 25 April 1975
Peter Ham
Ham gantung diri pada tanggal 23 April 1975.Diduga,Ham meninggalkan sebuah catatan bernama Stan Polley.Stan Polley adalah Manajer dari band Badfinger.Tetapi Stan Polley sendiri menyangkal akan adanya catatan itu.







11. Chris Bell : 12 Januari 1951 - 27 Desember 1978
Chris Bell












12. D. Boon "The Minutemen" : 1 April 1958 - 22 Desember 1985
D Boon







13. Dave Alexander "The Stooges" : 3 Juni 1947 - 10 Februari 1975
Dave Alexander












14. Ron 'Pigpen' McKernan "The Grateful Dead" : 8 September 1945 - 8 Maret 1973
Ron "Pigpen" McKernan
Ron “Pigpen” Mckernan meninggal pada tanggal 8 Maret 1973 akibat pendarahan perut yang disebabkan oleh kegemarannya mengkonsumsi minuman beralkohol selama beberapa tahun terakhir.






15. Alan 'Blind Owl' Wilson : 4 Juli 1943 - 3 September 1970
Alan 'Blind Owl' Wilson
Wilson mempunyai masalah emosional dan terdapat beberapa kali mencoba untuk bunuh diri.Pada tanggal 3 September 1970 Wilson meninggal karena overdosis obat-obatan.





16. Malcolm Hale "Spanky and Our Gang" : 17 Mei 1941 - 30 Oktober 30 1968
Malcolm Hale












17. Arlester 'Dyke' Christian : 13 Juni 1943 - 13 Maret 1971
Arlester 'Dyke' Christian













18. Linda Jones : 14 Desember 1944 - 14 Maret 1972

Linda Jones












19. Rudy Lewis "The Drifters" : 23 Agustus 1936 - 20 Mei 1964
Rudy Lewis
Pada tanggal 21 Mei 1964 Lewis dijadwalkan merekam lagu “Under The Broadwalk”,tetapi jasad Lewis ditemukan di atas tempat tidurnya.Beberapa orang mengatakan bahwa Lewis meninggal karena overdosis.






20. Jesse Belvin : 15 Desember 1932 - 6 Februari 1960
Jesse Belvin











21. Robert Johnson : 8 Mei 1911 - 16 Agustus 1938
Robert Johnsosn
Penyebab kematian Johnson sampai sekarang masih menjadi teka-teki,
ada beberapa versi tentang kematian Robert,versi yang beredar di masyarakat adalah Robert diracun oleh seorang pria yang cemburu karena robert mendekati kekasihnya.






22. Bryan Ottoson "Guitarist for American Head Charge" : 18 Maret 1978 - 19 April 2005
Bryan Ottoson



















23. Fat Pat "Rapper" : 4 Desember 1970 - 3 Februari 1998
Fat Pat













24. Jeremy Michael Ward "The Mars Volta" : 5 Mei 1976 - 25 Mei 2003
Jeremy Michael Ward












25. Johnny Kidd : 23 Desember 1935-7 Oktober 1966

Johnny Kidd













26. Les Harvey "Stone The Crows" : 13 September 1944 – 3 Mei 1972

Les Harvey












27. Mia Zapata "The Gits" : 25 Agustus 1965 – 7 Juli 1993

Mia Zapata
Zapata ditemukan tewas dekat Comet Tavern di Seattle pada tanggal 7 Juli 1993.Zapata meninggal karena Diperkosa,Dipukuli dan Dicekik oleh seseorang.Penyerang itu akhirnya ditangkap oleh polisi dan dijatuhi hukuman penjara selama 36 tahun.




28. Sean Patrick McCabe "Ink & Dagger" : 1972 - 28 Agustus 2000
Sean Patrick McCabe
Pada tanggal 28 Agustus 2000,Sean Patrick McCabe tersedak sampai meninggal karena terlalu banyak menegak alkohol.




Popularitas dan karir musik cemerlang tak lagi bisa menyelamatkan hidup mereka dari jeratan alkohol, drug, atau kebiasaan buruk yang kerap mereka lakoni di tengah spotlight dunia hiburan. Pertanyaanya kenapa harus di usia 27 tahun? Kebetulan atau kutukan ? Siapakah Selanjutnya?

SUMBER :
1. www.forever27.co.uk
2. www.wikipedia.com
3. www.kapanlagi.com
4. www.detik.com
5. www.wrong-dimension.blogspot.com
6. www.kaskus.us

»»  Read More...